Langsung ke konten utama

Unggulan

Don’t Repeat The Same Mistake

Hai.. apa kabar? Sehat jiwa? Atau ada rasa yang nggak tau mau diartikan seperti apa?

Aku? Yaa masih sama seperti kemarin yang lalu, masih bingung mau apa dan nggak tau. Aaaah maaf kalau bahasa ku semakin kacau.

Pergantian tahun yang lagi-lagi nggak terasa berjalan tanpa aba-aba dan sekarang bulan Maret menyapa. Dalam kurun waktu memasuki triwulan tahun ini, kamu udah berhasil mencapai apa aja? Udah berapa banyak peluang yang terlewatkan dengan sengaja? Banyak rintangan nggak? Susah dan berat yaa? Bumbu-bumbu perjalanan itu namanya. Kasih waktu ke diri sendiri untuk menyapa, bertanya dan mendengarkan keluh kesah. Bisa jadi beberapa bulan ini kamu terlalu memaksakan diri dalam semua hal. Mungkin kamu lebih aware ke yang lain sampai lupa kalo pribadi juga butuh di perhatiin. Atau kamu terlalu berekspektasi atas pencapaian diri sendiri tapi nyatanya nggak terjadi. Hampir frustasi tapi syukurnya masih bisa diatasi? Nah coba tanya lagi maunya diri? Istirahat sebentar kayaknya nggak akan membuat mu tertinggal dan merugi.

“Tenang. Tidak ada yang harus dibuktikan. Yang harus kamu lakukan adalah tetap senangi hal-hal yang sedang kau perjuangkan” ~Boy Candra (dalam postingan Twitter nya).

Ngomongin perjalanan, tiap orang pasti punya kisahnya masing-masing. Kesulitan dan rintangan yang dialami juga beda level.  Nggak bisa tuh kita sama ratakan.

“aah, kamu mah baru ngerasain begini. Aku lebih parah dari itu”

“ini belum seberapa dibanding masalah aku”

“dulu aku juga pernah ngerasain yang kamu rasain sekarang, tapi aku bisa ngelewatin”

Ungkapan beberapa orang yang terkadang atau bahkan sering terdengar disekitar. Jujur, aku kurang suka dengan orang yang seperti itu. Menganggap semua masalah dari perspektif satu pintu milik nya. Stereotip dalam menyikapi keadaan, dan justru dalam ungkapannya malah jadi terkesan ingin menegaskan kalau “aku lebih hebat dari kamu karena berhasil melewati berbagai rintangan yang lalu”. Kesal sekali rasanya!

Tiap orang punya jalan hidup yang berbeda. Pola pikir, cara mengatasi masalah, kekuatan mental dalam menyikapi keadaan masing-masing orang itu nggak sama. Mungkin dulu kamu memang pernah menghadapi masalah yang jauh lebih besar dan rumit, mungkin kamu pernah merasakan kegagalan yang jauh lebih mengecewakan, lalu kamu berhasil melewati itu dengan pencapaian yang pasti sekarang bisa kamu banggakan. Tapi bukan berarti kamu bisa memandang mudah masalah orang lain. Menganggap lemah mental orang lain. Merasa kamu lebih tahan banting dari orang lain. Karena apa?

karena level pencapaian, masalah, kegagalan, kebahagiaan, kekesalan, kesabaran, dan amarah tiap orang itu berbeda”

Bisa jadi masalah orang lain yang kamu lihat belum ada apa-apanya dibanding masalahmu adalah hal yang paling berat dan sedang dia usahakan agar berhasil terlewatkan dan bisa terus berjalan. Kalau nggak bisa membantu banyak hal, setidaknya jangan tambah beban dengan ucapan basa basi yang justru menyakitkan.

Hai, Don’t repeat the same mistake please…

 

 

Komentar

Postingan Populer